Sabtu, 24 November 2007
bukan basa-basi
aku katakan ini
bukan hanya teori tanpa aplikasi
aplikasi gemilang yang pernah tercatat dalam lembaran sejarah di lemari
bukan basa-basi
aku katakan ini
demi terterapnya aturan Ilahi
mencipta masyarakat madani
bukan basa-basi
aku katakan ini
pada penguasa yang tidur nyenyak,
pengusaha yang menimbun harta rakyat,
rakyat jelata yang kosong perut,
intelektual mahasiswa yang berdemo demi revolusi,
ibu-ibu rumah tangga yang pusing harga sembako naik,
para ayah yang tak naik gaji
buruh-buruh yang terdzalimi
pada konlomerat
juga gelandang yang tidur di kolong jembatan lagi melarat
bukan basa-basi
aku katakan ini
pada dunia
KHILAFAH harga mati!
resah cukup tiga minggu
“akan ku pertimbangkan, beri aku waktu tiga minggu” katanya
“jawabanmu adalah keputusan Tuhanku” kataku
Rabbku Yang Maha Bijaksana
hati ini merana
tak sanggup menahan rasa
resah mengganggu jiwa
seberapa pun hati menginginkannya
aku tak bisa memaksa padanya
agar menerima raga yang sering alfa
Allahu Akbar
malam-malam tiga minggu membuatku gusar
menangis bersujud di atas tikar
memohon diberikan sabar
aku yang menerima kabar
tiga minggu aku resah
sepertiga malam mataku basah
apapun keputusan-Nya aku qanaah
cukuplah resah tiga minggu
Rabu, 21 November 2007
Tak Inginkah Kau Sedikit Mengerti Aku
aku tak sepertimu
aku tak sepintar dirimu
yang pintar mengelak perintah Tuhan
aku tak sekuat dirimu
yang kuat lakukan larangan-Nya
aku tak seberani dirimu
yang berani mengumbar aurat
aku tak secantik dirimu
yang cantiknya lupa disyukuri
aku tak semanis senyummu
yang senyumnya menjadi penggoda
aku tak lebih daripada dirimu
Kamu punya segalanya
Tak peduli kau menertawakanku
Dulu, aku yang selalu menengadahkan kepala tuk menatapmu
Berandai aku seperti dirimu sampai aku lelah
Dan memutuskan untuk jadi diri sendiri
Tanpa memikirkan lagi menjadi duplikatmu
Tak inginkah kau sedikit mengerti aku
Jangan paksa aku
Untuk sepertimu
Biarlah aku adalah aku
Wisman, 10 september 2007
syawal 1428
lebaran 1428
Allahu Akbar, Allahu Akbar
La Ilaha Ilallah
Wa Lillahilhamdu
Lebaran
kamu, dia, mereka, kalian menyambut lebaran
sepatu dan baju baru dikenakan
ketupat dan opor ayam dihidangkan
hmm, itukah lebaran?
Kamu, dia, mereka, kalian lupakan
Makna lebaran
Lebaran tak cukup salaman
Lebaran bukan keluar dari penjara Ramadhan
Lebaran itu hari kemenangan
Menang itu hanya untuk manusia yang ikut syariat Allahu ar-Rahman
SPN
Pusara Bisu
ritual rutin
lebaran pagi
pergi menjenguk pusara bisu
pusara diam
tak berkomentar
menyaksikan jutaan manusia
komat-kamit membaca mantra
pusara itu bisu
aku pun begitu
bayang berkecamuk
izrail memaksaku
mengakhiri lakon dunia
lalu izrail menyuruhku
tidur dalam pusara bisu
menanti hari yang pasti
dibangkitkan lagi
bertemu Raja di akhirat nanti
aku terhenyak
sadar dari lamunan yang banyak
manusia-manusia satu persatu
meninggalkan pusara bisu
harusnya mereka ingat selalu
pusara bisu
buatku yakin tanpa ragu
aku pasti di kubur di dalammu
SPN
Mengintip Dibalik Cadar
ku menyusuri jalan
tunduk
bukan karena suntuk
pun ngantuk
tak kuasa menahan ingin
siapa yang tak tergoda
barisan berlian di etalase
sutra-sutra dari negeri cina
kalung dan gelang berhias permata
dinar dan dirham berpeti-peti
istana-istana di pegunungan
tamasya keliling dunia
suami yang tampan bermabda islam
anak-anak yang menghibur hati
inginku semua untukku
aku tak mampu
penuhi inginku
biarkan aku mengintip di balik cadar
menahan kecintaan pada dunia
tak pantas aku bersedih hati
karena kefakiran
bukankah Tuhanku Maha Kaya?
kelak
apa yang ku pinta
Selasa, 20 November 2007
menangislah bunda
bersandarlah dipundakku
ku dengarkan semua keluh tentang hidup ini
tentang lelaki pilihanmu yang menyakitimu
tentang anakmu yang lupa pada Tuhan
anakmu yang dimakan zaman
muntahkan semua marahmu padaku
aku kan bisu
tak kan membela diri
tentang kenakalanku
aku yang sombong telah mengenal jalan Tuhan
aku yang memaki pemerintahan yang telah memberimu makan
aku yang mengutuk pemimpin-pemimpin yang tak mau bersyariat Ilahi
padahal mereka yang memberimu gaji
aku yang memakan kue-kue yang terhidang di nampan
aku yang membuang kopi-kopi hitam legam
sesajen untuk para leluhur yang diam
aku yang menentang foya-foya
aku yang tak suka hura-hura
seperti yang sering bunda lakukan
sekarang, menangislah bunda
dipundakku yang menanggung beban
engkau bertanya, “ kenapa aku harus menangis?”
“apa yang harus aku tangisi?”
aku mengunci mati
lisan yang ingin interupsi
aku bicara dalam hati
bunda, aku kan pergi
tinggalkanmu sendiri
bunda, aku akan pergi
sepertinya tak kembali
tak akan ada lagi shalat berjamaah
tak akan lagi diskusi-diskusi tentang penerapan syariah
aku tak lagi bisa mengantarmu ke pasar
aku tak lagi bisa membantu membuat kue lebaran
aku tak lagi bisa menjaga adik-adik yang nakal
aku tak lagi bisa memasak makanan untukmu
aku tak lagi bisa membersihkan rumah
karena aku kan pergi
bunda, aku akan pergi
bersamanya menjemput syahidah
membantunya jihad fii sabilillah
akhirnya bunda mengerti
walau ku katakan dengan hati
anaknya akan pergi
menangislah bunda
mengiringi anaknya yang kan pergi
menuju peperangan suci
membela agama Ilahi
menangislah bunda
anaknya meminta doa restu
lelaki itu ku panggil ayah
di sudut jendela aku menatap iri
jingkrak senang
bocah-bocah mendapat hadiah
mereka yang punya ayah
aku yang kecil ini
mengurung diri di kamar sepi
menangis sendiri
ayah yang telah pergi
tinggalkan bunda bekerja setiap hari
lelaki itu kembali
bunda senang sekali
tak begitu dengan aku yang kecil ini
plakkk!!!
lelaki itu menampar pipi
tanpa malu dia jenggut rambut ikalku
aku yang kecil ini bertanya, apa salahku?
lelaki itu tak pernah kenalkan aku dengan Tuhan
lelaki itu tak jua ajarkan aku alif
alif yang berdiri kokoh
tangannya hanya mengatakan hidup itu keras
dia ingin membuatku seperti besi
agar dapat bertahan hidup
tapi dia tak memberi tahuku siapa besi itu?
masa kecilku tanpa ceria
seperti teman sebaya
masa kanakku tanpa bahagia
bersama lelaki pilihan bunda
kini aku yang kecil ini telah dewasa
mencari Tuhan di jalanan
tanpa lelaki pilihan bunda
sekarang aku yang kecil ini telah dewasa
menjadi alif yang berdiri kokoh
tak kan terbawa badai tsunami
walau aku bukan besi
sekarang aku yang kecil ini telah dewasa
tak lagi membawa benci
walau lelaki pilihan bunda telah menyakiti
hingga palung hati
karena Tuhan yang aku temukan
di jalanan kehidupan
Dia telah mengajarkan dalam Al Quran
agar aku berbakti pada ayah dan bunda
bunda, kini aku yang kecil ini telah dewasa
lelaki pilihan bunda
ku panggil ayah