Sabtu, 24 November 2007
jalanan tak pernah damai
Jalanan begitu garang
Mata, hati, mafhum perang
Aku hanya mampu menatap sepatu-sepatu berdebu
Walau sebenarnya aku ingin mengangkat dagu
Jalanan begitu panas
Mata melihat, hati hitam berbekas
Bagaimana akal menghalangi mata yang tak pernah puas?
Mencari sosok yang berhati keras
Pergi ke masjid menunggu ashar
Untuk sujud pada-Nya tidak ditawar
Hanya, selesai salam
Sinar mataku padam
Tertiup angin membawa angan tentang lelaki bermabda islam
Ku ingin tau, apakah dia yang kucari dalam mimpi tiap malam?
....???....
Mengerutkan dahi berhari-hari
Tentang tempat persinggahan
Sesaat jasad ditnggal ruh pergi
Di dalam kuburan
Adakah kenikmatan
Sebelum masuk pintu syurga
Ataupun siksaan
Menanti gerbang api neraka
Haruskah aku tanyakan
Kepada mayat-mayat bergelimpangan
Di dalam kuburan
Sedang apakah kalian?
bingung menggunung
mengerutkan dahi berhari
apakah ada tanda-tanda
di hari manusia kepayahan
menyelamatkan diri
meski tak kan bisa
apakah almasih kan turun?
apakah dajjal kan datang menjegal?
ku temukan jawaban kebingungan yang menggunung
kerutan berhari-hari tak ada lagi
Rasulullah telah mengabarkan dalam hadits shahih
peristiwa itu akan ada
aku yakin pasti
bukan basa-basi
aku katakan ini
bukan hanya teori tanpa aplikasi
aplikasi gemilang yang pernah tercatat dalam lembaran sejarah di lemari
bukan basa-basi
aku katakan ini
demi terterapnya aturan Ilahi
mencipta masyarakat madani
bukan basa-basi
aku katakan ini
pada penguasa yang tidur nyenyak,
pengusaha yang menimbun harta rakyat,
rakyat jelata yang kosong perut,
intelektual mahasiswa yang berdemo demi revolusi,
ibu-ibu rumah tangga yang pusing harga sembako naik,
para ayah yang tak naik gaji
buruh-buruh yang terdzalimi
pada konlomerat
juga gelandang yang tidur di kolong jembatan lagi melarat
bukan basa-basi
aku katakan ini
pada dunia
KHILAFAH harga mati!
resah cukup tiga minggu
“akan ku pertimbangkan, beri aku waktu tiga minggu” katanya
“jawabanmu adalah keputusan Tuhanku” kataku
Rabbku Yang Maha Bijaksana
hati ini merana
tak sanggup menahan rasa
resah mengganggu jiwa
seberapa pun hati menginginkannya
aku tak bisa memaksa padanya
agar menerima raga yang sering alfa
Allahu Akbar
malam-malam tiga minggu membuatku gusar
menangis bersujud di atas tikar
memohon diberikan sabar
aku yang menerima kabar
tiga minggu aku resah
sepertiga malam mataku basah
apapun keputusan-Nya aku qanaah
cukuplah resah tiga minggu
Rabu, 21 November 2007
Tak Inginkah Kau Sedikit Mengerti Aku
aku tak sepertimu
aku tak sepintar dirimu
yang pintar mengelak perintah Tuhan
aku tak sekuat dirimu
yang kuat lakukan larangan-Nya
aku tak seberani dirimu
yang berani mengumbar aurat
aku tak secantik dirimu
yang cantiknya lupa disyukuri
aku tak semanis senyummu
yang senyumnya menjadi penggoda
aku tak lebih daripada dirimu
Kamu punya segalanya
Tak peduli kau menertawakanku
Dulu, aku yang selalu menengadahkan kepala tuk menatapmu
Berandai aku seperti dirimu sampai aku lelah
Dan memutuskan untuk jadi diri sendiri
Tanpa memikirkan lagi menjadi duplikatmu
Tak inginkah kau sedikit mengerti aku
Jangan paksa aku
Untuk sepertimu
Biarlah aku adalah aku
Wisman, 10 september 2007
syawal 1428
lebaran 1428
Allahu Akbar, Allahu Akbar
La Ilaha Ilallah
Wa Lillahilhamdu
Lebaran
kamu, dia, mereka, kalian menyambut lebaran
sepatu dan baju baru dikenakan
ketupat dan opor ayam dihidangkan
hmm, itukah lebaran?
Kamu, dia, mereka, kalian lupakan
Makna lebaran
Lebaran tak cukup salaman
Lebaran bukan keluar dari penjara Ramadhan
Lebaran itu hari kemenangan
Menang itu hanya untuk manusia yang ikut syariat Allahu ar-Rahman
SPN
Pusara Bisu
ritual rutin
lebaran pagi
pergi menjenguk pusara bisu
pusara diam
tak berkomentar
menyaksikan jutaan manusia
komat-kamit membaca mantra
pusara itu bisu
aku pun begitu
bayang berkecamuk
izrail memaksaku
mengakhiri lakon dunia
lalu izrail menyuruhku
tidur dalam pusara bisu
menanti hari yang pasti
dibangkitkan lagi
bertemu Raja di akhirat nanti
aku terhenyak
sadar dari lamunan yang banyak
manusia-manusia satu persatu
meninggalkan pusara bisu
harusnya mereka ingat selalu
pusara bisu
buatku yakin tanpa ragu
aku pasti di kubur di dalammu
SPN
Mengintip Dibalik Cadar
ku menyusuri jalan
tunduk
bukan karena suntuk
pun ngantuk
tak kuasa menahan ingin
siapa yang tak tergoda
barisan berlian di etalase
sutra-sutra dari negeri cina
kalung dan gelang berhias permata
dinar dan dirham berpeti-peti
istana-istana di pegunungan
tamasya keliling dunia
suami yang tampan bermabda islam
anak-anak yang menghibur hati
inginku semua untukku
aku tak mampu
penuhi inginku
biarkan aku mengintip di balik cadar
menahan kecintaan pada dunia
tak pantas aku bersedih hati
karena kefakiran
bukankah Tuhanku Maha Kaya?
kelak
apa yang ku pinta